logo Kompas.id
Politik & HukumSudah 22 Tahun, Kasus...
Iklan

Hak Asasi Manusia

Sudah 22 Tahun, Kasus Kerusuhan Mei 1998 Belum Juga Dituntaskan

Pemerintah dituntut serius menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia berat kerusuhan 12-15 Mei 1998. Kejaksaan Agung perlu segera menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM terkait pelanggaran HAM berat itu.

Oleh
Norbertus Arya Dwiangga Martiar
· 1 menit baca
https://assetd.kompas.id/FitcK_LTJQEjaK49yjZJM0z414k=/1024x576/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F03%2F20200306_ENGLISH-TAJUK_A_web_1583506455.jpg
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Peserta aksi membawa gambar sejumlah tokoh yang menjadi korban pelanggaran HAM saat memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional yang diikuti para buruh dan mahasiswa di Jakarta, Selasa (10/12/2019). Penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintah saat ini. Publik juga menaruh harapan besar agar penuntasan persoalan HAM diselesaikan melalui pengadilan.

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia dinilai tidak serius menyelesaikan kasus pelanggaran hak asasi manusia berat yang terjadi dalam rangkaian kerusuhan pada pertengahan Mei 1998. Kasus pelanggaran HAM berat ini dinilai terancam semakin terbengkalai karena menguatnya oligarki.

Pada 12-15 Mei 1998, terjadi serangkaian kerusuhan di sejumlah daerah Indonesia. Berawal dari terbunuhnya empat mahasiswa Trisakti, Jakarta, kerusuhan meluas dengan korban etnis Tionghoa yang terjadi terutama di Jakarta, Medan, Solo, dan Surabaya, yang menewaskan lebih dari 1.000 orang. Adapun empat mahasiswa yang tewas tersebut adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidhin Royan, Hery Hartanto, dan Hendriawan Sie.

Editor:
Antony Lee
Bagikan
Terjadi galat saat memproses permintaan.
Artikel Terkait
Belum ada artikel
Iklan