JELAJAH SAMBAH nusantara (Tulisan 9)
Tanah Melayu, Sambal Para Raja Riau-Lingga, hingga Trio Pilado Kampar
Sambal wilayah kepulauan di bumi Melayu mengadaptasi kondisi alam agar tahan lama saat dibawa melaut berminggu-minggu.
Sambal telah menjadi menu santapan orang Melayu di wilayah kepulauan sejak zaman Kesultanan Riau-Lingga. Lahan pertanian minim sehingga cabai harus didatangkan dari daratan Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Melahirkan sambal-sambal khas yang mengadaptasi kondisi alam setempat.
Mayoritas Melayu di Kepulauan Riau bekerja sebagai nelayan tangkap sehingga membutuhkan makanan awet agar bisa dijadikan bekal melaut hingga berminggu-minggu. Akhirnya, banyak sambal di Kepri memiliki ciri khas tahan lama saat disimpan. Hal itu didapatkan dari fermentasi ataupun dimasak sampai kering.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 13 dengan judul "Tanah Melayu, Sambal Para Raja Riau-Lingga, hingga Trio Pilado Kampar".
Baca Epaper Kompas