SOSOK
Imran Kudus, Pencatat Rasa Budaya Buton
Sejak belia, Imran Kudus (40) telah jatuh cinta dengan sejarah dan budaya tanah kelahirannya, tanah Buton.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F12%2F07%2F75d12604-3101-41e4-b38b-41ad016a4f99_jpeg.jpg)
Imran Kudus (40), budayawan muda Buton, saat ditemui di Baubau, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/11/2023).
Tumbuh di lingkungan Keraton Buton, Sulawesi Tenggara, membuat Imran Kudus (40) karib dengan budaya dan sejarah. Kegelisahan membawanya tekun mencatat dan membukukan berbagai dimensi kesejarahan, mulai dari tradisi, falsafah, hingga kuliner. Semua ia lakukan agar pengetahuan tetap terjaga dan generasi bisa semakin cinta budaya.
Duduk bersila di balai lawanalanto atau pintu gerbang utama Benteng Keraton Buton, Imran mengamati masakan yang disajikan. Rekannya, sang Chef Musdalifah (40) atau karib disapa Mama Aldo, mengambil piring satu per satu untuk disajikan di atas talam. Penyajian itu bagian dari dokumentasi kuliner yang diadakan ekspedisi Pusaka Rasa Nusantara.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 16 dengan judul "Pencatat Rasa Budaya Buton".
Baca Epaper Kompas