logo Kompas.id
β€Ί
Opiniβ€ΊMasyarakat Sipil dan Panggilan...
Iklan

Masyarakat Sipil dan Panggilan Kemanusiaan

Godaan kekuasaan bukan hanya menghantui para pegiat, terutama kalangan intelektual, akademisi, dan aktivis, melainkan juga organisasi dan institusi masyarakat sipil. Di sini, pendekatan intrinsik penting dikemukakan.

Oleh
ANTONIUS STEVEN UN
Β· 1 menit baca
https://cdn-assetd.kompas.id/_WFHnbyvNQmhKcQlGLHAHaFxnsM=/1024x576/https%3A%2F%2Finr-production-content-bucket.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com%2FINR_PRODUCTION%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F10%2F20%2F0919bf98-ebd4-400b-969a-18e584a6b31f_jpg.jpg

Kabar baik tentang peran masyarakat sipil dalam konsolidasi demokrasi datang dari Oslo, Norwegia. Dalam pengumuman pemenang Nobel Perdamaian tahun ini, Ketua Komite Nobel Norwegia Berit Reiss-Andersen berkata, ”Ini bukan kecaman bagi Presiden Rusia Vladimir Putin ataupun kepala negara mana pun. Namun, ketiga penerima hadiah membuktikan, di tiga negara bertetangga, masyarakat sipil memercayai nilai-nilai demokrasi universal yang menjunjung tinggi HAM” (Kompas, 10/10/2022).

Nobel Perdamaian tahun 2022 dianugerahkan kepada Ales Bialiatski, pegiat hak asasi manusia dari Belarus; Memorial, lembaga HAM dari Rusia; dan Pusat Kebebasan Sipil Ukraina (CCL). Sekalipun ketiganya berada di dalam negara-negara bertetangga yang sedang dilanda konflik, ketiganya tetap memiliki peran positif dalam konsolidasi demokrasi melalui sejumlah aktivitas (Kompas, 11/10/2022).

Editor:
YOVITA ARIKA
Bagikan