COVID-19
Pelanggaran Protokol Kesehatan di Surabaya Cerminkan Krisis Kepercayaan
Pelanggaran protokol kesehatan oleh masyarakat bahkan pejabat aparatur negara menandakan dalam masa pandemi Covid-19 terjadi krisis kesehatan, ekonomi, dan kepercayaan yang menyulitkan penanganan dan pengendalian wabah.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F05%2F5f8b9efa-baca-461c-bede-99ae9c53ecd7_jpg.jpg)
Penumpang bus dari Jakarta yang akan menuju Pulau Madura diarahkan menuju posko untuk pengecekan kesehatan di Pos Penyekatan Suramadu, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/5/2021). Terkait larangan mudik kendaraan yang tidak memiliki dokumen perjalanan yang ditentukan diminta putar balik.
SURABAYA, KOMPAS — Pelanggaran protokol kesehatan oleh masyarakat bahkan aparatur negara di Surabaya, Jawa Timur, mencerminkan adanya krisis kepercayaan dalam masa pandemi Covid-19. Penanganan pandemi Covid-19 akan tetap berliku ketika salah satu ikhtiarnya, yakni disiplin protokol kesehatan tidak selalu dapat ditegakkan.
Sampai dengan Kamis (20/5/2021), pelanggaran atau setidaknya indikasi pengabaian protokol kesehatan Covid-19 di Surabaya terus terjadi. Lebih dari 5.000 kendaraan, misalnya, tidak diperbolehkan masuk Surabaya dalam masa larangan mudik Lebaran 6-17 Mei 2021. Sampai dengan Senin (24/5/2021) berlangsung pengetatan mobilitas masyarakat bersamaan dengan perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sampai sepekan kemudian.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 0 dengan judul "Pelanggaran Protokol Kesehatan di Surabaya Cerminkan Krisis Kepercayaan".
Baca Epaper Kompas