GEMPA SULBAR
Berjuang Setara Setelah Gempa dari Atas Sepeda Motor Roda Tiga
Isu inklusivitas sama sekali belum diperhatikan dalam penanganan bencana, seperti gempa di Sulawesi Barat. Belum lagi bicara terkait mengikutsertakan kaum difabel dalam perencanaan pembangunan dan penataan wilayah.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F01%2F68b8ca05-c211-4aa5-8143-0ce9adba0683_jpg.jpg)
Sukarelawan dari Tim Relawan Kemanusiaan yang sebagian besar adalah difabel menyusuri permukiman mencari penyintas gempa yang difabel dan warga lansia di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (29/1/2021). Ratusan penyintas difabel di Mamuju belum mendapatkan bantuan logistik, terlebih kesehatan. Kelompok rentan belum menjadi perhatian utama dalam penanganan bencana.
Turun dari sepeda motor dengan sespan modifikasi berisi belasan kantong merah berisi bahan pokok, Syafaruddin Syam (33) mengambil tongkat. Perlahan ia mendaki jalan menanjak. Dua rekannya tiba lebih dulu di lokasi tujuan Syafaruddin. Mereka menemui dan membawa bantuan untuk penyintas gempa yang sakit dan belum tersentuh penanganan.
Di dalam ruang tamu sebuah rumah di Kelurahan Binanga, Mamuju, Sulawesi Barat, Nani (62) berbaring meringkuk. Sarung kuning yang kusam menjadi penutup tubuh satu-satunya ibu dengan sembilan anak ini. Kepalanya benjol. Ia rutin menyapu dada dan punggung.