logo Kompas.id
MetropolitanPertanian di Ibu Kota,...
Iklan

EKONOMI DKI

Pertanian di Ibu Kota, Alternatif Solusi Mengatasi Kemiskinan

Pandemi Covid-19 jadi berkah bagi Rizal. Sepanjang 2019, ia hanya mampu menjual 6.000-an batang bibit alpukat cipedak. Pada Maret-Desember tahun lalu, ia melepas 15.000 batang bibit ke daerah-daerah di Indonesia.

Oleh
JOHANES GALUH BIMANTARA
· 1 menit baca
https://assetd.kompas.id/2MoDfQVeqePHVnMfixVwN4PukEk=/1024x576/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F02%2F20210216JOG-Alpukat-Cipedak-Ahmad-Fahrizal-3_1613471020.jpeg
KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Petani menata bibit alpukat cipedak di sebidang lahan di Kelurahan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (16/2/2021).

Badan Pusat Statistik mencatat jumlah warga miskin di DKI Jakarta meningkat selama pandemi, dari 481.000 jiwa pada Maret 2020 menjadi 496.840 jiwa pada September 2020. Menggerakkan pertanian bisa menjadi solusi untuk mendorong warga miskin lebih berdaya dan mandiri memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Apalagi, 68,46 persen uang belanja pada orang miskin habis untuk membeli makanan. Selain itu, data November tahun lalu menunjukkan, 175.890 orang menganggur akibat Covid-19, antara lain karena perusahaannya terdampak atau karena pemberlakuan  kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Editor:
nelitriana
Bagikan
Terjadi galat saat memproses permintaan.
Artikel Terkait
Belum ada artikel
Iklan