INOVASI IPTEK
Pupuk dan Pestisida Hayati Berbasis Mikroba Antagonis
Penggunaan pupuk kimia dapat berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia. Pemakaian pupuk dan pestisida hayati berbasis mikroba antagonis dapat menjadi solusi untuk pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Petani menyemprotkan zat pestisida pada tanaman kubis di Desa Keditan, Ngablak, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (4/7/2020). Zat kimia tersebut disemprot setiap seminggu sekali untuk membasmi hama ulat agar pertumbuhan tanaman optimal sehingga hasil panen melimpah. Penggunaan pestisida berlebih dalam jangka panjang berpotensi melenyapkan mikroorganisme pada tanah sehingga justru bisa mengurangi kesuburan lahan.
Kegiatan pertanian atau budidaya tanaman di Indonesia umumnya masih mengandalkan pupuk dan pestisida kimia sintetik. Pestisida merupakan obat-obatan atau senyawa kimia bersifat racun yang digunakan untuk membasmi pengganggu tanaman, baik hama, penyakit, maupun gulma. Pemberian pestisida ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas serta membuat pertanian lebih efisien dan ekonomis.
Meski demikian, penggunaan pupuk kimia mempunyai kelemahan dan menyebabkan berbagai dampak. Kelemahan itu seperti tidak ramah lingkungan, meningkatkan resistensi dan resurgensiorganisme pengganggu tanaman(OPT), serta merusak kesehatan manusia.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 8 dengan judul "Pupuk dan Pestisida Hayati Berbasis Mikroba Antagonis".
Baca Epaper Kompas