Perberasan
Penggilingan Padi Skala Kecil Makin Terimpit
Momentum panen raya semestinya jadi ajang penggilingan padi untuk berburu gabah sebagai bahan baku. Namun, ketatnya persaingan, tipisnya margin, dan keterbatasan modal membuat pelaku usaha skala kecil tidak bisa leluasa.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F03%2F13%2Fbc6a0128-5a9d-4c19-bd6e-4b4222364dbf_jpg.jpg)
Buruh menurunkan beras impor asal Thailand yang digunakan sebagai cadangan pangan pemerintah yang saat ini masih digulirkan untuk operasi pasar di gudang Perum Bulog Kantor Cabang Cirebon, Jawa Barat, Selasa (28/2/2023).
JAKARTA, KOMPAS — Kendati memasuki masa panen raya, harga gabah di sejumlah sentra padi di Jawa Barat dan Jawa Tengah masih relatif tinggi hingga awal Maret 2023. Fenomena ”lapar beras” beberapa bulan terakhir membuat persaingan mendapatkan gabah makin ketat. Pelaku usaha perberasan skala kecil, khususnya penggilingan padi, mesti menunggu hingga harga gabah turun dan masuk hitungan.
Situasi itu tergambar saat Kompas menelusuri sentra-sentra padi di Jawa Barat dan Jawa Tengah, 28 Februari-5 Maret 2023. Sejumlah pengelola usaha penggilingan menyatakan belum mampu memenuhi target pengadaan karena harga gabah masih di atas harga acuan. Kapsitas mesin penggilingan pun belum optimal.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 9 dengan judul "Penggilingan Padi Skala Kecil Makin Terimpit".
Baca Epaper Kompas