Properti
Saatnya Menanjak
Kinerja sektor properti memengaruhi sejumlah sektor lain. Banyak industri yang ikut terkerek saat sektor properti menggeliat.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F11%2F85a6a73c-d2dd-47b9-9396-6116307f637d_jpg.jpg)
Kawasan perumahan baru yang terus tumbuh di Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019). Sektor perumahan masih menarik bagi penyedia pembiayaan. Apalagi, masih ada kekurangan sekitar 11,4 juta unit rumah dan tambahan kebutuhan 800.000 unit rumah per tahun. Segmen pasar properti menengah ke bawah masih berjaya. Pembelinya adalah kelompok masyarakat yang membutuhkan rumah untuk dihuni yang sebagian besar merupakan keluarga muda. Lahan terbangun di Jabodetabek meluas. Daya dukung lingkungan memburuk. Dibutuhkan kendali penataan ruang yang optimal.
Sektor properti memiliki dampak berganda. Dampak berganda ini tercipta karena setidaknya ada 170 industri ikutan yang terkerek pada saat sektor properti menanjak.
Kinerja sektor properti terkait dengan banyak industri, seperti semen, pasir, batu, besi, baja, seng, cat, keramik, dan tentu saja lapangan kerja. Selain itu, industri yang terkait sektor properti cukup banyak, antara lain furnitur, mebel, lampu, dan kabel, termasuk perlengkapan rumah tangga seperti kompor hingga panci.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 13 dengan judul "Saatnya Menanjak".
Baca Epaper Kompas