logo Kompas.id
β€Ί
Utamaβ€ΊTomTom Index sebagai Cambuk
Iklan

TomTom Index sebagai Cambuk

Permasalahan transportasi di DKI Jakarta harus pula menyinggung wilayah sekitarnya. Itu karena wilayah-wilayah Jabodetabek sudah menjadi satu wilayah yang menyatu secara ekonomi. Keterhubungan dan kemudahan mengakses angkutan publik jadi kunci.

Oleh
Helena F Nababan/Pingkan Elita Dundu
Β· 1 menit baca

Permasalahan transportasi di DKI Jakarta harus pula menyinggung wilayah sekitarnya. Itu karena wilayah-wilayah Jabodetabek sudah menjadi satu wilayah yang menyatu secara ekonomi. Keterhubungan dan kemudahan mengakses angkutan publik jadi kunci.

https://cdn-assetd.kompas.id/f87Vg_t7EsYf5THwwj99GsloBcs=/1024x683/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2019%2F06%2F20190618RZF08_1560851038.jpg
KOMPAS/RIZA FATHONI

Antrean kendaraan menyemut di dua arah saat jam berangkat kerja di Jalan KH Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019). Jakarta menempati posisi ke-7 sebagai kota termacet di dunia versi TomTom Traffic Index. Meski membaik dibandingkan tahun sebelumnya, peningkatan kualitas angkutan umum masih dibutuhkan untuk memperlancar perjalanan warga. Setahun sebelumnya, Jakarta berada di posisi ke-4 dari 390 kota.

Selama hampir dua tahun beroperasi, bus Transjakarta Koridor 13 jurusan Blok M-Ciledug (Puri Beta) memberikan pengaruh signifikan terhadap pengurangan kemacetan di wilayah timur Tangerang atau selatan Jakarta. Kemacetan arus lalu lintas berkurang signifikan di titik kemacetan, seperti Larangan, Cipulir, Kebayoran Lama, juga Pakubuwono hingga Mayestik.

Editor:
nelitriana
Bagikan