Komoditas
Karet Jangan sampai ”Rungkad”
Boleh saja Indonesia menggenjot industri tambang, kendaraan listrik, dan membela mati-matian sawit. Namun, jangan sampai industri hulu-hilir karet semakin tertinggal dan akhirnya ”rungkad”.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2017%2F12%2F23%2Ff2a14843-014d-4267-9eb5-4289b0fa3c4b_jpg.jpg)
Kelompok Tani Sejahtera Bersama di Desa Muhajirin, Jambi Luar Kota, Muaro Jambi, menunjukkan produk-produk turunan karet buatan sendiri beberapa waktu lalu. Pengembangan ke arah industri hilir ini mampu mengangkat harga karet di tingkat petani yang saat ini anjlok.
Bagi pemerintah, hilirisasi tambang mungkin lebih menarik. Lebih menghasilkan cuan. Sampai dicarikan investor hingga dibela mati-matian di forum Organisasi Perdagangan Internasional atau WTO. Bagaimana dengan karet?
Indonesia merupakan negara produsen karet nomor dua dunia setelah Thailand. Produksi karet Indonesia pada 2022 sebanyak 3,13 juta ton, sedangkan Thailand 4,75 juta ton. Rival terdekatnya, yakni Vietnam dan Malaysia masing-masing berada di urutan ke-3 (1,29 juta ton) dan ke-7 (377.000 ton).