Buku, Politik, Pesta, dan Cinta
Buku, politik, pesta, dan cinta kalau dipahami secara mendalam sesungguhnya frasa ini tersematkan kepada mahasiswa. Selain pemuda, mahasiswa juga kaum intelektual yang harus punya nalar kritis.
Tulisan ini sesungguhnya mengingatkan kita kepada sosok seorang aktivis mahasiswa yang menghabiskan waktunya naik gunung, yakni Soe Hok Gie, penulis muda yang kritis, yang menyukai seni, sastra, dan budaya hingga menulis sebuah puisi sehalus kabut Mandalawangi. Ini membuktikan bahwa Soe Hok Gie adalah sosok yang memahami seni dan budaya, sesuatu yang universal tanpa batasan.
Tetapi, sekali lagi tulisan ini tidak sepenuhnya menyadur pikiran-pikiran Soe Hok Gie karena berbeda era, tetapi paling tidak judul di atas akan menjadi ingatan kita tentang story and history apa yang pernah di lakukan oleh Soe Hok Gie. Setidaknya kita kagum dengan sosoknya yang punya nalar kritis di tengah sistem pemerintahan dan politik yang despotis.