logo Kompas.id
OpiniSeni, Kebangsaan, dan Nyoman...
Iklan

Seni, Kebangsaan, dan Nyoman Nuarta

Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, seni dan seniman mendapat tempat khusus melalui karya-karya yang menjadi koleksi negara. Tidak sekadar diapresiasi hasil karyanya, mereka juga diajak bicara.

Oleh
SUWARNO WISETROTOMO
· 1 menit baca
https://cdn-assetd.kompas.id/h6A6ZeUGV7pT3Rtw3DOl9ESL0BQ=/1024x1452/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F08%2F20210717-OPINI-Kidung-Tolak-Bala-dan-Estetika-Istana_1628435227.jpg
KOMPAS/SUPRIYANTO

Supriyanto

Mari sejenak menginterupsi sergapan senyap pandemi Covid-19, yang menghadirkan tragedi kemanusiaan ini, untuk membicarakan perkara yang bukan prioritas bagi siapa pun, termasuk bagi (sebagian aparatur) negara, kecuali bagi (sebagian) seniman, yakni terkait relasi negara, isu kebangsaan atau kewargaan, dengan seni dan seniman. Diksi ”bukan prioritas” itu juga dapat dibaca ”enggak ada pentingnya”.

Sebagian besar dari kita paham, bahwa persoalan paling mendesak hari ini adalah sehat, vaksinasi, isolasi, sembuh, dan kebal virus korona, dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari, sadar kebersihan, adaptasi terhadap kebiasaan baru, dan melipatgandakan belarasa. Hari-hari ini perkara kesenian sungguh terlalu mewah untuk dibicarakan.

Editor:
yovitaarika
Bagikan