Tajuk Rencana
Teruslah Serukan Toleransi
Indeks intoleransi masyarakat Indonesia terus naik. Parameter yang ada menunjukkan, Indonesia rentan dan mudah ”digoreng” untuk aneka kepentingan politik.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F02%2F20200203_ENGLISH-TAJUK_B_web_1580741680.jpg)
Warga melintas di depan mural lambang negara Burung Garuda dan isi teks Pancasila di daerah Pasar Minggu, Jakarta, Minggu (2/2/2020). Mural ini mengingatkan kita sebagai bangsa Indonesia harus dapat menerapkan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Laporan mengenai intoleransi di negeri ini dimuat Kompas, 16 November 2017. Lebih dari dua tahun kemudian, harian ini melaporkan pula tindakan intoleransi masih terjadi di sejumlah daerah. Bahkan, intoleransi di sejumlah daerah itu merepresentasikan relasi kuasa yang tak seimbang, berbasis sentimen agama. Umat beragama apa pun rentan menjadi korban dari tindakan intoleransi itu (Kompas, 3/2/2020).
Intoleransi yang terjadi di masyarakat tidak hanya berbasiskan agama, tetapi juga suku, ras, dan antargolongan. Tindakan intoleransi bisa terjadi saat dirasakan ada kesenjangan dalam bidang ekonomi atau ketimpangan dalam akses kesejahteraan sosial dan bidang kehidupan lain. Salah satu cara menekan sikap intoleransi adalah mewujudkan keadilan. Namun, tak mudah mewujudkan keadilan itu.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 6 dengan judul "Teruslah Serukan Toleransi".
Baca Epaper Kompas