KRISIS IKLIM
Pegiat Lingkungan di Sumut Sebut G20 Tidak Hasilkan Perubahan Berarti Mengatasi Krisis Iklim
Pegiat lingkungan yang berunjuk rasa di Medan menyebut KTT G20 di Bali tidak membawa perubahan berarti pada krisis iklim. Mereka mendorong percepatan pemberhentian dini PLTU batubara yang dinilai masih setengah hati.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F11%2F17%2Fa1a00b96-c54d-4dda-a2cd-bbbaf37a8249_jpg.jpg)
Sejumlah pegiat lingkungan hidup berunjuk rasa di Jalan Balai Kota, Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/11/2022). Mereka menyesalkan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali yang dinilai tidak menghasilkan perubahan berarti dalam mengatasi krisis iklim.
MEDAN, KOMPAS — Sejumlah pegiat lingkungan dari sejumlah organisasi di Medan, Sumatera Utara, menyebut Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, 15-16 November, tidak membawa perubahan berarti untuk mengatasi krisis iklim. Mereka mendorong percepatan pemberhentian dini pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara.
Para pegiat lingkungan dari Yayasan Srikandi Lestari, Extinction Rebellion (XR) Medan, dan sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus menyampaikan hal tersebut saat unjuk rasa di Jalan Balai Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/11/2022). Mereka menyebut, krisis iklim sudah menjadi ancaman yang sangat nyata bagi masyarakat, tetapi tidak ada solusi konkret yang dihasilkan dari negara-negara G20.