logo Kompas.id
β€Ί
Nusantaraβ€ΊKonflik Tiada Akhir Manusia...
Iklan

Konflik Tiada Akhir Manusia dan Satwa di Sumatera

Persoalan konflik manusia dan satwa di Sumatera tak terlepas dari degradasi hutan yang menjadi habitat satwa. Tercatat deforestasi di Sumatera tahun 2016-2017 mencapai 127.223 hektar atau hampir dua kali luas Jakarta.

Oleh
Tim Kompas Biro Sumatera
Β· 1 menit baca

Kelestarian satwa endemik di Sumatera penting untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem. Ironisnya, yang terjadi justru konflik manusia dan satwa yang mengancam kelestarian satwa.

https://cdn-assetd.kompas.id/V9LCzCvpXrZE4UMeKMBHG1HoE-w=/1024x576/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F02%2FDesa-Panton-Luas_87345244_1581870371.jpg
KOMPAS/FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Ritual mendamaikan manusia dan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) oleh pawang harimau yang digelar BKSDA Aceh di kebun sawit di Singgersing, Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, Kamis (23/1/2020).

MEDAN, KOMPAS β€” Konflik manusia dan satwa di Sumatera kian masif akibat degradasi hutan yang menjadi habitat satwa. Selain mengancam keselamatan warga, sejumlah satwa endemik yang dilindungi juga terancam punah.

Editor:
wahyuharyo
Bagikan