Kolom Bahasa
Elegi dan Eulogi
Kata eulogi sedikit beririsan fungsi dengan kata elegi dalam mengenang seseorang yang bermakna positif bagi banyak orang.

Sesai membaca Tajuk Rencana berjudul ”Elegi Panggung Pengadilan” (Kompas, 16/3/2021), saya jadi teringat Pak Hadisuwito, munsyi semasa saya bersekolah lanjutan atas di Kota Madiun, Jawa Timur, setengah abad silam. Beliaulah yang pertama kali mengenalkan saya kata elegi dalam siaran apresiasi sastra di Radio Bhima milik sekolah. ”Puisi elegi itu kidung kesedihan dalam peristiwa kematian,” begitu kira-kira kata Pak Guru kala itu. Penjelasan itu searti dengan kata elegia (Latin abad ke-16), yakni puisi ratapan, a poem of lamentation; ataupun elegeia oidḗ (Yunani), nyanyian perkabungan, a song of mourning.
Salah satu puisi elegi yang diulas dalam siaran waktu itu ialah Ode Pemakaman karya Mansur Samin, penyair asal Batangtoru, Tapanuli. Puisi itu untuk mengenang martir-demonstran gerakan mahasiswa pada awal Orde Baru di Tanah Air. Suasana ”elegis” terbaca pada bait terakhirnya, Lewat bendera kabung setengah tiang/ kami sampaikan salam duka yang dalam/ ini pengorbanan, ini ketulusan/selalu kami kenang, kami tak lupakan.