logo Kompas.id
OpiniMengkritisi Uji Vaksin
Iklan

Mengkritisi Uji Vaksin

Perseteruan terkait vaksin Nusantara makin memprihatinkan dengan keterlibatan para elite. Konflik kepentingan mengalahkan tujuan bersama mengatasi pandemi.

Oleh
Redaksi
· 1 menit baca
https://cdn-assetd.kompas.id/WJCCHayfqHkKNbaQiynwqA4Kgm0=/1024x662/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F04%2F42ca0834-2dfd-42b9-a686-3486545e4d7d_jpg.jpg
Kompas/Priyombodo

Seorang seniman berpose seusai menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama dalam kegiatan vaksinasi massal bagi seniman dan budayawan di Galeri Nasional, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (19/4/2021). Sekitar 500 seniman dan budayawan di Jabodetabek menerima suntikan vaksin Covid-19 agar sektor ekonomi kreatif nasional dapat segera pulih dan bangkit. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Maka hari-hari ini rakyat seperti mendapat tontonan tanpa paham maknanya. Di satu sisi sejumlah anggota DPR, mantan menteri, dan pensiunan TNI bergabung ke tim vaksin Nusantara, diambil darahnya, dan siap menjadi sukarelawan. Mereka lupa, ketika vaksinasi dari pemerintah resmi dimulai, mereka pula yang antre paling depan meminta diprioritaskan.

Secara metodologi penelitian, jelas anggota DPR dan elite politik itu tidak valid untuk menguji efektivitas vaksin Nusantara. Hal ini karena vaksin Sinovac yang  mereka dapat sudah lebih dahulu membangun sistem kekebalan tubuh.

Editor:
adiprinantyo
Bagikan