logo Kompas.id
โ€บ
Opiniโ€บEsoterisme Beragama
Iklan

Esoterisme Beragama

Esoterisme beragama menjadi relevan dalam melihat Ramadhan di tengah pandemi. Bagi kaum eksoteris Covid-19 merupakan penghalang kesempurnaan Ramadhan, sebaliknya kaum esoteris menganggap sebagai tantangan keutamaan.

Oleh
Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel, Surabaya
ยท 1 menit baca
https://cdn-assetd.kompas.id/Z6xiGU5V44rg-jL00tOV4lKDB-Y=/1024x768/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F03%2F34115626-a53c-4260-8dfa-83e6c0faed68_jpg.jpg
KOMPAS/RHAMA PURNA JATI

Sejumlah jemaat melakukan Sholat Dzuhur di Masjid Agung Palembang, Jumat (27/3/2020). Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko penularan covid-19.

Secara anatomis, realitas agama terbentuk dari dua komponen: komponen wadah atau kulit dan komponen isi atau inti. Komponen wadah adalah dimensi eksterioritas-permukaan agama yang tampak di kulit luarnya (surface structure) dan bisa diamati seperti gerakan ritual, aspek festival budaya beserta segala syiar atau gebyar sosiologisnya. Sebaliknya, komponen isi mencakup interioritas agama yang menjadi ruh, jiwa, dan kedalaman spiritual agama yang menempati struktur terdalam (deep structure).

Meminjam Frithjof Schuon (1981), dimensi eksterioritas agama disebut eksoterisme agama. Sementara itu, dimensi interioritas agama disebut sebagai esoterisme agama. Sepanjang sejarahnya, kedua komponen ini tak jarang terlibat dalam sebuah dialektika kontestasi yang saling mendominasi dan menegasikan. Sekalipun demikian, kedua dimensi tersebut sebenarnya dapat diintegrasikan secara simultan dalam melihat realitas sebuah ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.

Editor:
yohaneskrisnawan
Bagikan