Santo dan Sultan
Pertemuan Fransiskus Asisi dan Sultan Malik al-Kamil, juga Paus Fransiskus dan Sheikh Ahmed al-Tayyeb, Imam Besar Al-Azhar, kini perlu untuk diteriakkan dan dipraktikkan di tengah semakin pekatnya hawa intoleransi.

Trias Kuncahyono, wartawan Kompas 1988-2018
Peristiwa itu sudah terjadi 800 tahun silam. Akan tetapi, di tangan Paul Mosesāseorang wartawan, profesor di Brooklyn College dan City University of New York Graduate School of Journalismāpertemuan yang sangat historis dan monumental itu dihidupkan kembali di tengah dunia yang terus digerogoti rasa dengki, iri, kecemburuan, purbasangka, kebencian, dan permusuhan.
Paul Moses lewat The Saint and the Sultan: The Crusades, Islam, and Francis of Assisiās Mission of Peace (2009), menghidupkan kembali pertemuan antara Fransiskus Asisi dan Sultan Malik al-Kamil, 1219. Cerita pertemuan Fransiskus Asisi dan Al-Kamilāyang banyak kali ditulis, diceritakan, dan bahkan diperdebatkanādi tengah kecamuknya Perang Salib V (1217-1221), tidak hanya monumental, tetapi juga historis dalam konteks dialog antar-iman.