Pengaruh Iklim terhadap Covid-19
Faktor cuaca dan iklim masih kecil kemungkinan menjadi penyebab utama berhentinya wabah Covid-19 di waktu-waktu mendatang. Namun, pengaruh cuaca dan iklim juga tidak bisa diabaikan.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F04%2FBerolahraga-dan-Berjemur-di-Perkampungan-Padat-Penduduk_88674405_1586538542.jpg)
Warga berolahraga dan berjemur di perkampungan padat di bantaran Kali Ciliwung, Jati Pulo, Palmerah, Jakarta Barat, Minggu (5/4/2020). Di tengah ancaman pandemi Covid-19, warga yang tinggal di kampung padat berusaha tetap bugar dengan berolahraga dan berjemur di pagi hari. Meski demikian, upaya menjaga jarak sosial agak sulit dilakukan karena kepadatan lingkungan tempat tinggal.
Warga yang hidup di tempat beriklim hangat diasumsikan lebih lambat terinfeksi virus korona tipe baru. Namun, tanpa diimbangi dengan pencegahan perluasan wabah, seperti pembatasan sosial, tes massal, dan kapabilitas rumah sakit, pandemi Covid-19 tetap mengancam.
Dari sejumlah penelitian, human coronaviruses biasanya menyebabkan gejala demam saat kondisi dingin, yaitu bulan Desember hingga April. Sementara saat suhu menghangat pada musim panas, masa hidup virus berkurang dan mulai menunjukkan gejala melemah.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 0 dengan judul "Pengaruh Iklim terhadap Covid-19".
Baca Epaper Kompas