FENOMENA
Memilih Gaya Hidup Melambat demi Mengejar Hidup Berkualitas
Hidup dan bekerja berlandaskan kecepatan, bukan berdasarkan mutu dan rendahnya penghargaan, akhirnya hanya menghasilkan ketidakpuasan.

Suasana persimpangan jalan di Tokyo, Jepang, pada jam sibuk tanggal 13 Juli 2021.
Manusia tidak bisa hidup tanpa teknologi karena manusia adalah pencipta teknologi. Akan tetapi, akhir-akhir ini hidup manusia ditentukan oleh teknologi. Kemampuan korporasi menciptakan sistem produksi massal memberi kesan bahwa segala sesuatu harus dilombakan dengan permesinan, mulai dari kehidupan pribadi, pendidikan, hingga pekerjaan. Akhirnya, muncullah gerakan slow living.
Slow living bisa diartikan dengan melambatkan kehidupan. Gerakan melambat ini bukan berarti bermalas-malasan dan ogah bekerja. Justru, gerakan ini mengajak agar setiap individu kembali memikirkan prioritas kehidupannya dan cara untuk mencapainya guna memperoleh hasil yang bermutu.