KAJIAN EKOSISTEM
Potensi Pengembangan Etnobiologi Mangrove
Bangsa Austronesia dan Melanesia tidak asing dengan bakau dan menjadi bagian dari peradaban. Bangsa Austronesia diyakini mengenal bakau dan pemanfaatannya sejak masih di Sundaland (dataran Sunda) pada 25.000-11.000 SM.
/https%3A%2F%2Fkompas.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2020%2F05%2F8661b780-342b-4072-8055-8205c21b6c07_jpg.jpg)
Foto aerial hutan mangrove di kawasan ekowisata Jembatan Cinta, Kampung Paljaya, Desa Segara Jaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (31/5/2020).
JAKARTA, KOMPAS — Mangrove memiliki pusat keragaman hayati di kawasan tropika Nusantara dan memengaruhi peradaban bangsa yang tinggal bersamanya. Namun, informasi terkait hubungan mangrove dengan peradaban masih rendah. Oleh karena itu, kajian ilmiah etnobiologi mangrove Indonesia perlu dikembangkan.
Peneliti pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ary Prihardhyanto Keim, dalam diskusi daring, Selasa (21/7/2020), menyampaikan, berdasarkan penelitiannya, mangrove berperan penting dan memiliki kaitan dengan peradaban bangsa, khususnya terkait jalur pelayaran masa lampau.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 0 dengan judul "Potensi Pengembangan Etnobiologi Mangrove".
Baca Epaper Kompas