Mengembalikan Pemahaman Seni yang Inklusif
Seni bukan milik kalangan tertentu saja, melainkan juga milik masyarakat yang bahkan mengaku tak mengerti seni. Sebab, seni sesungguhnya inklusif.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F07%2F24%2Fcd253516-6536-4e13-8867-368a6cd29f2d_jpg.jpg)
Pengunjung mengamati karya yang dipamerkan di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (24/7/2023). Akademi Jakarta (AJ) menggelar program tahunan tentang kemandirian pikiran serta pameran dan diskusi. Karya tersebut disuguhkan oleh empat komunitas seni dari Bandung, yaitu Komunitas Bekas Bioskop Dian. Ruang Reda, Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi dan Imah Budaya Cigondewah. Komunitas seni dengan latar belakang warga kota, ibu rumah tangga dan anak-anak tersebut memperkenalkan pendekatan seni yang terjelma langsung dari kehidupan sehari-hari.
JAKARTA, KOMPAS — Seni kerap dimaknai secara terbatas sebagai karya para seniman atau budayawan di galeri atau museum. Seni juga kerap dianggap eksklusif, mahal, dan sulit dipahami. Padahal, seni sejatinya inklusif, bisa dibuat oleh siapa saja dan bisa dinikmati semua orang, bahkan mereka yang mengaku tak ”nyeni”.
Hal ini mengemuka pada diskusi bertajuk ”Terobos: Daya Ubah Seni dan Kemandirian Pikiran”, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (24/7/2023). Diskusi ini bagian dari Kuliah Kenangan Sutan Takdir Alisjahbana yang digelar oleh Akademi Jakarta (AJ).