logo Kompas.id
HumanioraMencegah Perundungan di...
Iklan

Mencegah Perundungan di Sekolah

Perundungan atau ”bullying” masih kerap terjadi di sekolah. Upaya menghadirkan lingkungan sekolah yang aman dengan mendorong sekolah bebas perundungan menjadi salah satu evaluasi dalam Rapor Pendidikan sekolah.

Oleh
ESTER LINCE NAPITUPULU
· 1 menit baca
Para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Sudah Dong menggelar aksi solidaritas anti-perundungan di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (23/7). Gerakan tersebut diharapkan bisa mengedukasi masyarakat untuk mencegah terjadinya perundungan (<i>bullying</i>) di berbagai tempat ataupun media sosial.
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Para pemuda yang tergabung dalam Komunitas Sudah Dong menggelar aksi solidaritas anti-perundungan di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (23/7). Gerakan tersebut diharapkan bisa mengedukasi masyarakat untuk mencegah terjadinya perundungan (bullying) di berbagai tempat ataupun media sosial.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terus menggaungkan tiga besar dosa pendidikan, yakni perundungan atau bullying, kekerasan seksual, dan intoleransi. Ketiga hal ini memang masih menjadi permasalahan yang kerap terjadi di sekolah sehingga lingkungan belajar sekolah yang aman dan nyaman belum sepenuhnya dapat dihadirkan bagi siswa.

Kasus perundungan menjadi salah satu kasus kekerasan yang sering terjadi di sekolah, baik antara siswa dan siswa maupun antara pendidik dan siswa. Seperti diberitakan Agustus lalu, GDR (18), seorang pelajar kelas XI di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, berupaya mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke dalam sumur lantaran tidak tahan dirundung teman-temannya. Beruntung, nyawa remaja itu tertolong karena ibunya, M (53), memergoki dan kemudian berteriak minta tolong kepada warga sekitar.

Editor:
ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN
Bagikan