logo Kompas.id
Gaya HidupPilih Hunian Vertikal yang...
Iklan

Pilih Hunian Vertikal yang Hijau dan Asri

Saat ini, merupakan saat baik bagi konsumen untuk membeli apartemen. Suku bunga sudah disesuaikan oleh Bank Indonesia.

Oleh
BM LUKITA GRAHADYARINI, MEDIANA
· 6 menit baca
Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024). EleVee Condominium berlokasi di kawasan bisnis dan gaya hidup Escala, Alam Sutera.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024). EleVee Condominium berlokasi di kawasan bisnis dan gaya hidup Escala, Alam Sutera.

Waktu yang terbatas dengan aktivitas begitu padat membuat sebagian warga Jakarta dan kota-kota penyangganya kini lebih cermat menjalani kehidupan. Mereka memilih hunian vertikal di lokasi premium dekat pusat perbelanjaan, tempat nongkrong, kuliner, hingga tempat bekerja.

Seiring peningkatan kesadaran konsumen terhadap properti ramah lingkungan, pengembang mulai membangun hunian vertikal dengan lingkungan yang asri. Sebagai regulator, pemerintah juga sedang mendorong pembangunan gedung-gedung ramah lingkungan.

Menurut Direktur Bina Teknik Permukiman dan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dian Irawati, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (7/2/2024), penyelenggaraan bangunan gedung hijau menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengurangi dampak perubahan iklim dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan.

Hingga kini, terdata enam bangunan gedung, lima perumahan dan satu kawasan yang telah disertifikasi Bangunan Gedung Hijau (BGH) sesuai Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021. Selain itu, Rusun Tenaga Pendidik Universitas Gadjah Mada telah menerapkan konsep hijau, kemudian mendapat sertifikasi BGH dan peringkat madya pada tahap perencanaan.

Dua menara kampus Universitas Multimedia Nusantara di Gading Serpong, Banten, yang berkonsep gedung hijau.
KOMPAS/ILHAM KHOIRI

Dua menara kampus Universitas Multimedia Nusantara di Gading Serpong, Banten, yang berkonsep gedung hijau.

Namun, terdapat sejumlah tantangan dalam mewujudkan bangunan gedung hijau. Di antaranya, belum komprehensifnya pendataan bangunan gedung di Indonesia, masih terbatasnya tim profesi ahli bangunan gedung hijau di daerah, serta belum ditetapkannya skema insentif dan disinsentif di daerah, baik yang ditetapkan daerah maupun mekanisme lain seperti melalui perdagangan karbon.

Implementasi bangunan gedung hijau pada hunian vertikal juga menghadapi tantangan, terutama terkait adaptasi perilaku penghuni. Keterbatasan ruang kerap menyebabkan ketergantungan penghuni pada peralatan elektronik. Interaksi penghuni dengan lingkungan tempat tinggal mereka juga terbatas.

Baca juga: Proyek Kondominium Berkonsep Eco Green Living di Alam Sutera

“Hunian vertikal juga merupakan ruang pribadi bagi penghuni, sehingga pengaturan perilaku menjadi cenderung sulit dilakukan,” tulis Dian.

Dengan begitu, ditambahkan Dian, dibutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan edukasi, desain ruang, dan interaksi sosial untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan berkelanjutan bagi penghuni hunian vertikal yang menerapkan konsep bangunan gedung hijau.

Penurunan emisi

Untuk mempercepat penyelenggaraan bangunan gedung hijau, pihaknya mendorong pemerintah daerah untuk segera menetapkan skema insentif dan penyelenggara bangunan gedung hijau di daerah, serta bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lainnya.

Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Senin (5/2/2024).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Senin (5/2/2024).

Pihaknya berencana melakukan nota kesepahaman dengan Kementerian ESDM dan Kementerian Dalam Negeri untuk mengimplementasikan rencana pembinaan yang telah tercantum dalam peta jalan penyelenggaraan dan pembinaan bangunan gedung hijau. Selain itu, penerbitan Surat Edaran Bersama tiga Kementerian tersebut kepada seluruh kabupaten/kota untuk mendorong implementasi penyelenggaraan bangunan gedung hijau di wilayahnya masing-masing.

Sejalan dengan Paris Agreement, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai bagian dari upaya global dalam mengatasi perubahan iklim. Dalam target Enhanced Nationally Determined Contributions (eNDC), Indonesia menetapkan pengurangan emisi GRK tanpa syarat sebesar 31,89 persen dan pengurangan emisi bersyarat sebesar 43,2 persen pada tahun 2030. Hal ini juga sejalan dengan arahan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050) dengan tujuan akhir mencapai net-zero emission pada tahun 2060.

Baca juga: Bangunan Gedung Cerdas dan Hijau Digaungkan

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 dan Perpres Nomor 98 Tahun 2021, bangunan gedung dianggap sebagai bagian dari sektor energi dan memiliki peran penting dalam mitigasi emisi gas rumah kaca. Sub-sektor Bangunan Gedung memiliki target untuk menurunkan emisi GRK sebesar 8,85 persen, dengan 1,91 juta ton CO2 ditargetkan untuk komersial dan 25,87 juta ton CO2 untuk rumah tangga.

Skema insentif

Core Founding Member Green Building Council Indonesia (GBCI) Naning S Adiningsih Adiwoso, mengemukakan, implementasi bangunan hijau untuk apartemen tidak hanya menyasar fisik bangunan hijau, tetapi lebih penting adalah menyasar masyarakat dan perilaku penghuninya.

Anak-anak mengikuti pelajaran olahraga di SDN Duren Sawit 14, Jakarta Timur, Kamis (29/9/2022). Sekolah ini menjadi salah satu dari empat sekolah negeri dengan konsep net zero carbon atau netralitas karbon di Jakarta.
KOMPAS/AGUS SUSANTO

Anak-anak mengikuti pelajaran olahraga di SDN Duren Sawit 14, Jakarta Timur, Kamis (29/9/2022). Sekolah ini menjadi salah satu dari empat sekolah negeri dengan konsep net zero carbon atau netralitas karbon di Jakarta.

Namun, tidak mudah mengubah perilaku masyarakat untuk ramah lingkungan dan hemat energi. Diperlukan edukasi dari operator apartemen kepada penghuni bahwa gedung didesain dengan konsep hijau. Perilaku penghuni pun diharapkan berubah misalnya menggunakan listrik secara lebih efisien.

Iklan

“Yang kita sasar adalah masyarakat. Bukan sekadar proyek bangunan hijau, lalu selesai. Pemeliharaan lingkungan dan perilaku penghuninya lebih penting. Bangunan hijau, tetapi perilaku orang tidak mengadopsi konsep hijau maka tidak ada gunanya,” ujar Naning.

Namun, ditambahkan Naning, harga apartemen dengan konsep hijau juga tidak murah.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto, mengemukakan, apartemen dengan konsep hijau memang umumnya lebih mahal. Karena itu, perlu insentif berupa keringanan pajak, biaya administrasi ataupun bea perolehan hak atas tanah dan bangunan guna mendorong animo pembeli dan juga pengembang.

Warga berolahraga di area forest park EleVee Condominium di kawasan Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Warga berolahraga di area forest park EleVee Condominium di kawasan Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).

Ia mencontohkan, konsumen motor listrik mendapatkan insentif hingga 25 persen dari harga jual. Dia pun menyarankan ada insentif bagi pembelian bangunan gedung hijau yang memiliki nilai lebih tinggi dan memberikan kesehatan bagi masyarakat.

Salah satu contoh hunian vertikal dengan konsep hijau adalah Kondominium EleVee di Kota Tangerang, Banten. Chief Marketing Officer EleVee Condominium Alvin Andronicus, ditemui Rabu (10/1/2024) di Kota Tangerang, menjelaskan, EleVee Penthouse dan Residences sejak awal didesain oleh Alam Sutera untuk mendukung gaya hidup hijau.

Baca juga: Tren Anak Muda Kaya Raya Membeli Rumah Mewah

Dialokasikan lahan empat hektar di sekitar bangunan kondominium untuk taman hutan (forest park). Kemudian, setiap kondominium didesain memiliki tinggi plafon sekitar 3,1 meter, lebih tinggi dibanding tinggi rata-rata bangunan yang berkisar 2,7 meter.

“Sampah diangkut, lalu diolah untuk kebutuhan 3R (menggunakan kembali, mengurangi, dan daur ulang). Kami membuatkan fasilitas pengolahan air bersih dan lintasan untuk lari,” ujar dia. Bila pengembang lain harus berpikir keras untuk membangun ruang terbuka hijau, Alam Sutera bahkan membangunkan lintasan lari.

Setiap kondominium didesain memiliki tinggi plafon sekitar 3,1 meter.

Ramah hewan peliharaan

Kini, dua menara EleVee dalam tahap pembangunan. Satu menara di antaranya bahkan merupakan kondominium yang ramah terhadap hewan peliharaan dengan fasilitas taman bermain untuk hewan peliharaan. Menurut Alvin, kini ada fenomena semakin banyak orang mempunyai hewan peliharaan. Keinginan konsumen itu dipenuhi oleh Alam Sutera.

Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Proyek pembangunan EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).

Dari proyek dua menara EleVee tersebut, serapannya telah mencapai 85 persen. Pengecoran atap atau topping off dijadwalkan bulan Juni 2024, lalu serah terima unit akhir 2024 sampai awal 2025. Alam Sutera rencananya akan membangun menara ketiga pada tahun 2024.

“Kami tidak terburu-buru untuk membuka menara baru karena kami bertanggung jawab terhadap proses pembangunan. Kontraktor yang membangun EleVee adalah Ascet Indonusa yang sudah terbukti bagus. Satu lantai normalnya bisa terbangun dalam kurun waktu 10 hari,” ucapnya.

Lingkungan sosial

Selain fasilitas gaya hidup hijau, Alam Sutera juga menawarkan kehadiran lingkungan sosial yang kokoh bagi pembeli kondominium EleVee. Pertama, sistem parkir yang dijamin keamanannya. Kedua, hanya pemilik yang mempunyai kunci unit berupa password. Ketiga, di sekitar kawasan kondominium sudah ada hunian. Keempat, Alam Sutera membangunkan gymnasium, pusat yoga hingga kolam renang.

Lebih jauh Alvin memaparkan, kebanyakan pembeli unit kondominium di EleVee adalah konsumen akhir, seperti warga dari Jakarta Selatan dan Jakarta Utara. Konsumen umumnya berusia 30–40 tahun. Ada juga pembeli yang usianya lebih senior walau berencana menempati kondominium saat akhir pekan.

Chief Marketing Officer EleVee Condominium, Alvin Andronicus, saat memberikan keterangan terkait progres pembangunan proyek EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Chief Marketing Officer EleVee Condominium, Alvin Andronicus, saat memberikan keterangan terkait progres pembangunan proyek EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, ditemui terpisah, berpendapat, Kota Tangerang dan Tangerang Selatan merupakan daerah yang prospektif. Kawasan itu telah lama berkembang sehingga infrastruktur dasar sampai komunitas masyarakat telah terbentuk.

“Selain itu, dari sisi harga masih terjangkau. Warga yang memilih tinggal di sana biasanya bekerja ke Jakarta. Apartemen yang mendukung gaya hidup seperti itu akan dicari,” ujar dia.

Saat ini, lanjut Ferry, merupakan saat yang baik bagi konsumen untuk membeli apartemen. Suku bunga sudah disesuaikan oleh Bank Indonesia. Lalu, pemerintah telah mengeluarkan insentif pajak pertambahan nilai (PPn) meskipun tidak semua kalangan bisa menikmati.

“Membeli dengan kehati-hatian. Harga apartemen saat ini cenderung ”lebih murah” bila dilihat dari perbandingan price to income (PIR) ratio,” ujar dia.

Tata ruang dan desain interior salah satu unit contoh EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Tata ruang dan desain interior salah satu unit contoh EleVee Condominium di Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Rabu (10/1/2024).

Editor:
HARYO DAMARDONO, HAMZIRWAN HAMID
Bagikan