logo Kompas.id
Gaya HidupFanatisme Penggemar Kecap
Iklan

Kuliner

Fanatisme Penggemar Kecap

Kalau sudah jatuh cinta pada satu-dua merek kecap, hampir tak ada ruang untuk kecap yang lain. Begitulah fanatisme di kalangan penggemar kecap.

Oleh
DWI AS SETIANINGSIH, MACHRADIN WAHYUDI RITONGA, WISNU DEWABRATA
· 1 menit baca
Pekerja memasak gula aren sebagai bagian dari proses produksi kecap manis dengan jenama Kecap Cap Sapi di pabrik kecap Karya Gemilang yang berada di Jalan Holis, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/6/2023). Kecap Cap Sapi merupakan salah satu produk kecap lokal Bandung yang mulai dirintis sejak tahun 1938 dan masih tetap bertahan hingga saat ini.
KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Pekerja memasak gula aren sebagai bagian dari proses produksi kecap manis dengan jenama Kecap Cap Sapi di pabrik kecap Karya Gemilang yang berada di Jalan Holis, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/6/2023). Kecap Cap Sapi merupakan salah satu produk kecap lokal Bandung yang mulai dirintis sejak tahun 1938 dan masih tetap bertahan hingga saat ini.

Kalau sudah jatuh cinta pada satu-dua merek kecap, hampir tak ada ruang untuk kecap yang lain. Begitulah fanatisme di kalangan penggemar kecap. Produsen kecap pun berupaya menjaga kesetiaan penggemar dengan beragam cara sehingga menciptakan persaingan ketat.

Teguh Husodo (53), dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran, adalah penikmat setia kecap Cap Borobudur selama puluhan tahun. Sudah telanjur cinta, lidah Teguh sulit berpindah ke lain kecap.

Editor:
BUDI SUWARNA
Bagikan

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 7 dengan judul "Fanatisme Penggemar Kecap".

Baca Epaper Kompas
Terjadi galat saat memproses permintaan.
Artikel Terkait
Belum ada artikel
Iklan