ENERGI
Dunia Butuh Baterai Berkapasitas 200 Terawatt Jam untuk Transisi Energi
Produksi baterai Li-ion baru 1 persen dari kebutuhan transisi energi global.
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F03%2F07%2Fd909c545-3b92-4c97-a9a9-eaf870d46bc0_jpg.jpg)
Contoh baterai mobil listrik dipamerkan dalam pameran Green Energy di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (7/3/2024). Baterai menjadi komponen penting bagi perkembangan kendaraan listrik.
SINGAPURA, KOMPAS — Kebutuhan transisi energi dari bahan bakar fosil ke pembangkit energi baru dan terbarukan meningkatkan kebutuhan baterai di seluruh dunia. Untuk itu, dunia perlu mengembangkan teknologi, investasi, serta kebijakan untuk meningkatkan produksi baterai yang berkelanjutan.
Baterai berkapasitas besar dan dapat diisi ulang dibutuhkan untuk transisi itu. Sejauh ini, dunia mengandalkan baterai dengan teknologi Litium-ion (Li-ion) yang telah dikembangkan lebih dari 30 tahun lalu, menggantikan baterai timbal-asam yang ditemukan di abad ke-19.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi di halaman 10 dengan judul "Dunia Butuh Baterai Berkapasitas 200 Terawatt Jam".
Baca Epaper Kompas